Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU BIASA XXXIII (HARI ORANG MISKIN SEDUNIA VII) 19 November 2023 : PERJALANAN YESUS DAN PERJALANAN HIDUP KITA

Bacaan Ekaristi : Ams. 31:10-13,19-20,30-31; Mzm. 128:1-2,3,4-5; 1Tes. 5:1-6; Mat. 25:14-30.


Tiga orang mendapati diri mereka diberi sejumlah besar uang, berkat kemurahan hati majikan mereka, yang akan bepergian melakukan perjalanan jauh. Sang tuan akan kembali suatu hari nanti dan memanggil para hambanya itu, percaya bahwa ia akan bersukacita bersama mereka atas upaya mereka telah melipatgandakan hartanya dan menghasilkan buah. Perumpamaan yang baru saja kita dengarkan (bdk. Mat 25:14-30) mengajak kita untuk merenungkan dua perjalanan : perjalanan Yesus dan perjalanan hidup kita.

 

Perjalanan Yesus. Pada awal perumpamaan ini, Tuhan berbicara tentang “seorang yang mau bepergian. Ia memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka” (ayat 14). “Perjalanan” ini mengingatkan kita pada perjalanan Kristus sendiri, dalam penjelmaan, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga. Kristus, yang turun dari Bapa untuk tinggal di antara kita, melalui kematian-Nya menghancurkan kematian dan setelah bangkit dari kematian, kembali kepada Bapa. Maka, pada akhir perutusan-Nya di bumi, Yesus melakukan “perjalanan pulang” kepada Bapa. Tetapi sebelum berangkat, Ia meninggalkan kita harta-Nya, sebuah “modal” yang sesungguhnya. Ia meninggalkan kita diri-Nya dalam Ekaristi. Ia meninggalkan kita sabda kehidupan-Nya, Ia memberi kita Bunda-Nya yang kudus untuk menjadi Bunda kita, dan Ia membagikan karunia-karunia Roh Kudus agar kita dapat melanjutkan karya-Nya di bumi. Bacaan Injil memberitahu kita bahwa “talenta-talenta” ini diberikan “menurut kesanggupan masing-masing” (ayat 15) dan dengan demikian untuk perutusan pribadi yang dipercayakan Tuhan kepada kita dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam masyarakat dan Gereja. Rasul Paulus mengatakan hal yang sama : “Tetapi, kepada kita masing-masing telah diberikan anugerah menurut ukuran pemberian Kristus. Itulah sebabnya dikatakan, 'Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia'” (Ef. 4:7-8).

 

Marilah kita melihat sekali lagi kepada Yesus, yang menerima segala sesuatu dari tangan Bapa, tetapi tidak menyimpan harta ini untuk diri-Nya sendiri : “Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba” (Fil 2:6-7). Ia mengenakan kemanusiaan kita yang lemah. Sebagai orang Samaria yang baik hati, Ia menuangkan minyak ke atas luka kita. Ia menjadi miskin supaya kita menjadi kaya (2Kor. 8:9), dan ditinggikan di kayu salib. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita' (2 Kor 5:21). Karena kita. Yesus hidup untuk kita, karena kita. Itulah tujuan perjalanan-Nya di dunia, sebelum kembali kepada Bapa.

 

Perumpamaan hari ini juga memberitahu kita bahwa “lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka” (Mat 25:19). Perjalanan pertama Yesus menuju Bapa akan diikuti oleh perjalanan lainnya, di akhir zaman, ketika Ia akan kembali dalam kemuliaan dan menemui kita sekali lagi, untuk “mengadakan perhitungan” sejarah dan membawa kita ke dalam sukacita kehidupan kekal. Maka kita perlu bertanya pada diri kita sendiri : Dalam keadaan apa Tuhan akan mendapati kita ketika Ia datang kembali? Bagaimana aku akan menghadap-Nya pada waktu yang ditentukan?

 

Pertanyaan ini membawa kita pada permenungan kedua: perjalanan hidup kita. Jalan mana yang akan kita ambil dalam hidup kita: jalan Yesus, yang hidup-Nya sungguh merupakan karunia, atau jalan keegoisan? Jalan dengan tangan terbuka memberi kepada orang lain, memberikan diri kita, atau tangan tertutup agar kita punya lebih banyak harta benda dan hanya peduli pada diri kita sendiri? Perumpamaan tersebut memberitahu kita bahwa, menurut kesanggupan dan kemungkinan, kita masing-masing telah menerima “talenta” tertentu. Agar kita tidak disesatkan oleh istilah umum, kita perlu menyadari bahwa “talenta” itu bukan merupakan kesanggupan kita, melainkan sebagaimana telah kita katakan, karunia Tuhan yang ditinggalkan Kristus kepada kita ketika Ia kembali kepada Bapa. Bersama dengan karunia tersebut, Ia telah memberikan kepada kita Roh-Nya, yang di dalamnya kita menjadi anak-anak Allah dan berkat Roh itulah kita dapat menghabiskan hidup kita dengan memberikan kesaksian tentang Injil dan bekerja demi kedatangan kerajaan Allah. “Modal” yang sangat besar yang kita simpan adalah kasih Tuhan, landasan hidup dan sumber kekuatan kita dalam perjalanan kita.

 

Akibatnya, kita harus bertanya pada diri kita : Apa yang kulakukan dengan “talenta” ini dalam perjalanan hidupku? Perumpamaan tersebut menceritakan kepada kita bahwa dua hamba yang pertama melipatgandakan nilai pemberian yang telah mereka terima, sedangkan hamba yang ketiga, bukannya mempercayai tuannya yang telah memberinya talenta, malahan menjadi takut, dilumpuhkan oleh rasa takut. Menolak mengambil risiko, tidak mempertaruhkan diri, ia akhirnya mengubur talentanya. Hal ini juga berlaku bagi kita. Kita bisa melipatgandakan harta yang telah diberikan kepada kita, dan menjadikan hidup kita sebagai persembahan kasih demi sesama. Atau kita bisa menjalani kehidupan kita yang dihalangi oleh gambaran palsu tentang Allah, dan karena takut mengubur harta yang kita terima, hanya memikirkan diri kita, tidak peduli pada apa pun kecuali kenyamanan dan kepentingan kita, tetap tidak berkomitmen dan tidak terlibat. Pertanyaannya sangat jelas: dua hamba pertama mengambil risiko melalui transaksi mereka. Dan pertanyaan yang harus kita ajukan adalah : “Apakah aku mengambil risiko dalam hidupku? Apakah aku mengambil risiko melalui kekuatan imanku? Sebagai seorang kristiani, apakah aku tahu cara mengambil risiko atau apakah aku menutup diri karena takut atau pengecut?


Saudara-saudari, pada Hari Orang Miskin Sedunia ini perumpamaan tentang talenta merupakan sebuah panggilan untuk menelaah semangat kita dalam menghadapi perjalanan hidup kita. Kita telah menerima dari Tuhan karunia kasih-Nya dan kita dipanggil untuk menjadi karunia bagi orang lain. Kasih Yesus yang merawat kita, balsem belas kasihan-Nya, kasih sayang-Nya yang merawat luka-luka kita, nyala Roh yang memenuhi hati kita dengan sukacita dan harapan – semua ini adalah harta yang tidak bisa kita simpan begitu saja untuk diri kita, digunakan untuk tujuan kita sendiri atau dikubur di bawah tanah. Dicurahi dengan karunia, pada gilirannya kita dipanggil untuk menjadikan diri kita karunia. Kita yang sudah menerima banyak karunia harus menjadikan diri kita sebagai karunia bagi orang lain. Gambaran yang digunakan dalam perumpamaan ini sangat jelas: jika kita tidak menyebarkan kasih ke sekeliling kita, hidup kita akan tenggelam dalam kegelapan; jika kita tidak memanfaatkan talenta yang kita terima dengan baik, hidup kita akan terkubur di dalam tanah, seolah-olah kita sudah mati (bdk. ayat 25.30). Saudara-saudara, begitu banyak umat kristiani yang “terkubur di bawah tanah”! Banyak umat kristiani yang menghayati iman mereka seolah-olah mereka hidup di bawah tanah!

 

Maka marilah kita berpikir tentang semua bentuk kemiskinan material, budaya dan spiritual yang ada di dunia kita, tentang penderitaan besar yang terjadi di kota-kota kita, tentang orang-orang miskin yang terlupakan yang jeritan penderitaannya tidak terdengar dalam ketidakpedulian pada umumnya dari masyarakat yang sibuk dan terbagi-bagi perhatiannya. Ketika kita berpikir tentang kemiskinan, kita tidak boleh melupakan keleluasaannya: kemiskinan bersifat tersendiri; kemiskinan menyembunyikan dirinya. Kita harus berani pergi dan mencarinya. Marilah kita memikirkan mereka yang tertindas, letih atau terpinggirkan, para korban perang dan mereka yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka dengan mempertaruhkan nyawa, mereka yang kelaparan dan mereka yang tidak memiliki pekerjaan dan tanpa harapan. Begitu banyak kemiskinan setiap hari: bukan hanya satu, dua, atau tiga, melainkan banyak sekali. Jumlah penduduk miskin sangat banyak. Ketika kita memikirkan betapa banyaknya orang miskin di tengah-tengah kita, pesan Bacaan Injil hari ini jelas: janganlah kita menguburkan harta Tuhan! Marilah kita menebarkan harta amal kasih, berbagi roti dan memperbanyak kasih kita! Kemiskinan adalah sebuah skandal. Ketika Tuhan datang kembali, Ia akan melakukan perhitungan dengan kita dan – seperti kata-kata Santo Ambrosius – Ia akan berkata kepada kita: “Mengapa kamu membiarkan begitu banyak orang miskin mati kelaparan padahal kamu memiliki emas untuk membeli makanan bagi mereka? Mengapa begitu banyak budak yang dijual dan dianiaya oleh musuh, tanpa ada yang berusaha menebusnya?” (De Officiis: PL 16, 148-149).

 

Marilah kita berdoa agar kita masing-masing, sesuai dengan karunia yang kita terima dan perutusan yang dipercayakan kepada kita, dapat berusaha “membuat amal kasih membuahkan hasil” dan mendekatkan diri kepada orang miskin. Marilah kita berdoa agar di akhir perjalanan kita, setelah menyambut Kristus dalam diri saudara-saudari kita yang dengan mereka Ia menyatakan diri-Nya (bdk. Mat 25:40), kita juga dapat mendengarnya dikatakan kepada kita: “Bagus, hai hambaku yang baik dan setia ... Masuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25:21).

______

(Peter Suriadi - Bogor, 20 November 2023)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.